Tuesday, December 6, 2011

Syair Perahu by Hamzah Fansuri

Laporan Penelitian

Karakteristik Sastra Sufi Hamzah Fansuri

(Kajian Terhadap Naskah Syair Perahu)

Oleh :

Zulhelmi, SS, MHSc

Dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry

Darussalam Banda Aceh

Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan

Kementerian Agama Republik Indonesia

Jakarta 2011

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik sastra sufi dalam naskah Syair Perahu karangan Hamzah Fansuri. Metode penelitian yang digunakan adalah library research, dengan menggunakan pendekatan sastra mimetik. Adapun kesimpulan yang telah diperoleh melalui penelitian ini adalah : bahwa Syair Perahu memiliki beberapa karakteristik di antaranya diawali dengan prolog sebagai kata pengatar untuk pembaca ; makna simbolisme perahu sebagai seorang manusia yang hidup di atas dunia ini dan ia suatu saat ia akan hidup di alam akhirat ; deskripsi tentang ekskatologi alam kubur ; konsep wahdatul wujud ; konsep iman, tauhid dan makrifat ; upaya arabisasi bahasa Melayu. Dari hasil penelitian ini juga nampak bahwa tuduhan sesat terhadap Hamzah Fansuri oleh sebagian orang tidaklah tepat, karena beliau masih memiliki iman yang kuat dan tetap melaksanakan syariat.

Kata Kunci : Sastra Sufi, Hamzah Fansuri, Syair Perahu

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya bahwa pada abad ke -16 dan ke -17 kerajaan Aceh Darussalam telah mencapai puncak keemasan peradaban dan ilmu pengetahuan. Pada masa keemasan ini, banyak karya intelektual yang ditulis dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ulama-ulama pada masa ini sangat kreatif dan inovatif untuk melahirkan karya-karya mereka, sehingga telah memberikan kontribusi dalam khazanah ilmu pengetahuan di nusantara Melayu ini.

Tokoh – tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Assumatrai, Abdurrauf As-singkili, Nuruddin Ar-Raniry dan lain sebagainya adalah sederet nama nama ulama besar yang telah melahirkan karya-karya intelektual yang berkualitas. Nama – nama tersebut beserta karya – karyanya selalu hidup dan dikaji hingga saat ini, baik oleh para sarjana Islam sendiri maupun oleh sarjana non Islam atau apa yang lebih dikenal dengan sebutan orientalist.

Dan kebanyakan dari karya mereka tersebut bercorak tasawuf atau lebih tepatnya disebut dengan sastra sufi dimana karya-karya tersebut berisi tentang ajaran-ajaran agama Islam dari sudut pandang tasawuf. Hal ini disebabkan karena Islam yang masuk dan berkembang pada saat itu merupakan Islam sufistik[1]. Dengan demikian karya yang bercorak tasawuf atau sastra sufi itu bernilai sangat penting di dalam sejarah perkembangan kesusastraan Melayu dan sejarah Islam di nusantara[2]. (Abdul Hadi WM, 2008: 179).

Hamzah Fansuri, yang diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke -16 sampai awal abad ke -17, merupakan salah seorang tokoh besar yang pernah dilahirkan oleh sejarah keemasan masa lampau nusantara Melayu-Indonesia. Beliau dianggap sebagai tokoh yang paling berjasa dalam perkembangan bahasa dan kesusasteraan Melayu klasik yang pada akhirnya menjadi cikal bakal bahasa resmi bangsa Indonesia pada saat ini. Ketenarannya dalam bidang bahasa dan sastra telah mengantarkan beliau menjadi seorang tokoh yang selalu hidup dalam setiap kajian para intelektual baik dalam maupun luar negeri.

Sebagai seorang sastrawan besar, Hamzah Fansuri telah melahirkan karya-karya monumental sebagai warisan intelektual dan budaya yang sangat berharga untuk generasi sesudahnya. Karya-karya sastra tersebut, baik dalam bentuk syair maupun prosa, merupakan pelopor penulisan sastra sufi di nusantara ini. Hal ini disebabkan karena isi dari karya-karyanya tersebut mengandungi nilai-nilai sufi yang sangat tinggi yang ditulis secara sangat sistematika dan memenuhi standar ilmiah (Abdul Hadi WM, 1995 : 14). Oleh karenanya, Hamzah Fansuri dikenal sebagai tokoh sastrawan sufi yang telah menjadikan sastra sebagai media untuk mengungkapkan ide-ide dan perasaan rindunya kepada Allah sang pencipta.

Di antara karya sastra sufinya yang terkenal adalah syair perahu. Syair ini mengandungi nilai-nilai tasawuf yang sangat tinggi dan telah mempengaruhi warna kesufian di kerajaan Aceh pada zaman hingga sampai ke zaman sekarang. Hal ini terbukti bahwa sampai sekarang ada salah seorang artis Aceh kontemporer yang beraliran Islam, Raffli Kande, telah menggubah syair perahu tersebut menjadi lirik salah satu lagunya yang bernuansakan Islam. Dan ternyata lirik lagu tersebut diminati oleh masyarakat Aceh sebagai lagu yang bernuansakan Islam sufi.

Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa keberadaan sastra sufi yang ditinggalkan oleh penyair besar Hamzah Fansuri tidak dapat dipandang sebelah mata, karena ia turut andil dalam mengembangkan ajaran-ajaran Islam dan membentuk karakter ummat manusia ke arah yang lebih baik dan santun melalui ajaran-ajaran sufistiknya. Lagi pula, sebagaimana telah penulis singgung di atas bahwa Islam yang pertama kali datang ke nusantara ini adalah Islam sufistik yang lebih menekankan pada amalan-amalan akhlakiah.

Berdasarkan paparan di atas tadi, maka di sini penulis sangat berkeinginan untuk mengetahui lebih lanjut lagi tentang karakteristik yang dimiliki oleh syair perahu karya Hamzah Fansuri sebagai salah satu dari karya-karya sastra sufi nusantara Melayu-Indonesia. Sehingga nantinya diharapkan akan terbentuk sebuah pemahaman yang konprehensif tentang nuasa Islam sufistik melalui kajian terhadap naskah syair Perahu karya Hamzah Fansuri.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Adapun permasalahan yang ingin diteliti adalah bagaimana karakteristik yang terdapat di dalam karya sastra sufi Hamzah Fansuri. Dan supaya penelitian ini bersifat lebih fokus dan mengarah, maka penulis di sini juga ingin membatasi ruang lingkup kajiannya pada syair perahu saja, sehingga penelitian ini tidak mencakupi seluruh karya-karya sastra Hamzah Fansuri yang lainnya.

C. Tujuan Penelitian

Sedikitnya, penelitian ini mempunyai dua tujuan. Pertama untuk mengetahui secara lebih mendalam dan komprehensif tentang karakteristik yang dimiliki oleh sastra sufi yang terkandung di dalam naskah syair Perahu karangan Hamzah Fansuri. Dari dari penelitian ini nantinya akan diharapkan lahir sebuah pemahaman yang konprehensif tentang nuansa Islam tasawuf yang berkembang pada saat sang penyair hidup.

Kedua, untuk memberikan kontribusi terhadap khazanah penulisan sejarah agama Islam di nusantara ini. Selama ini sejarah mencatat bahwa Hamzah Fansuri pernah dituduh oleh ulama yang bersebrangan ide dengannya sebagai orang yang telah kafir atau zindiq dengan ajaran-ajaran tasawuf wujudiyahnya. Oleh demikian, dengan adanya penelitian ini diharapkan akan mampu meluruskan pemikiran yang negatif terhadap Hamzah Fansuri yang mengklaim beliau keluar dari ajaran syariat Islam. Dan pada akhirnya orang akan bisa memahami corak atau karakter pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri melalui karya sufinya secara benar dan objektif tanpa ada klaim – klaim yang negatif terhadapnya.

D. Tinjauan Pustaka / Kajian Terdahulu

Secara umum, penelitian tentang tokoh Hamzah Fansuri dan karya-karyanya telah banyak sekali ditulis dan dikaji oleh para sarjana baik dalam maupun luar negeri. Hal ini disebabkan karena tokoh ini telah menjadi tokoh besar yang telah banyak berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan. Karena semakin banyaknya penelitian tentang tokoh ini, maka penulis di sini juga hanya akan memberikan beberapa contoh penelitian yang sudah dilakukan para peneliti sebelumnya yang fokusnya pada kajian sastra sufi Hamzah Fansuri.

Tulisan pertamanya yang patut dicantumkan di sini adalah : Tafsir Puisi Hamzah Fansuri dan Karya-Karya Shufi oleh Haji Wan Mohammad Shaghir Abdullah. Di dalam buku ini pengarang menggambarkan sosok Hamzah Fansuri sebagai tokoh sasterawan sufi terbesar di dunia Melayu. Kemudian beliau juga berbicara tentang tafsir puisi sufi Hamzah Fansuri yang ditulis oleh muridnya Syeihk Syamsuddin As-sumatrai. Namun penulis melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Haji Wan Mohammad Shaghir Abdullah masih seputar penjelasan lebih lanjut terhadap karya Syamsuddin Assumatrai yang menafsirkan puisi Hamzah Fansuri. Di samping itu tulisan beliau juga tidak menfokuskan pada naskah syair Perahu. Dengan bahasa lain bahwa tulisan ini masih bersifat sangat umum dan tidak focus pada analisa syair Perahu secara mendalam.

Selain itu, Wan Mohammad Shaghir Abdullah juga menuliskan buku yang lain yaitu: Almakrifah : Pelbagai Aspek Tasawuf di Nusantara. Di dalam buku ini beliau menukilkan tokoh-tokoh yang menyebarkan ajaran-ajaran tasawuf di nusantara beserta dengan analisis terhadap karya-karya mereka. Dan ketika sampai pada pembahasan tokoh Hamzah Fansuri, pengarang tidak menfokuskan pada syair perahu kecuali hanya mentranslitrasikan sebuah bait dari syair tersebut dari aksara Arab Jawi ke aksara latin tanpa melakukan analisis sama sekali. Tentu apa yang dilakukan oleh Wan Haji Mohammad Shaghir Abdullah masih tidak memadai dan membutuhkan usaha lain yang lebih dari itu.

Sementara Dr. Abdul Hadi WM juga sepertinya sudah jatuh cinta dengan tokoh Hamzah Fansuri. Hal ini terlihat pada dua buah bukunya, yang pertama : Hamzah Fansuri Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya. Di dalam buku ini beliau membahas secara panjang lebar dan lebih mendetail tentang sosok Hamzah Fansuri sebagai tokoh pembaharu tasawuf . Kemudian beliau mentranslitrasikan prosa Zinat Al-Wahidin dan Syair Minuman Para Pencinta dari aksara Jawi ke aksara latin. Dan buku keduanya adalah : Tasawuf Yang Tertindas Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri. Pada dasarnya, buku ini merupakan disertasi beliau untuk memperoleh gelar doctor di Universitas Sains Malaysia (USM). Abdul Hadi dalam buku ini menggunakan metode ta'wil atau hermeneutik untuk memahami dan menafsirkan karya-karya sastra Hamzah Fansuri. Beliau hendak membuktikan bahwa pemikiran Hamzah Fansuri tidak keluar dari koridor pemahaman Islam sebagaimana yang dituduh oleh ulama yang tidak sependapat dengannya. Beliau juga ingin mencoba melihat jejak silsilah tasawuf Hamzah Fansuri yang tidak terputus dari para pendahulunya. Lagi-lagi di dalam buku ini beliau tidak berbicara secara khusus pada syair perahu, karena syair yang lainnya mendapat perhatian yang lebih di dalam buku ini, seperti syair ikan tongkol.

Buku selanjutnya yang yang berkaitan dengan sastra sufi Hamzah Fansuri adalah, Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh. Buku ini disunting oleh Abdul Hadi WM dan L.K Ara dan diberi kata pengantar oleh Prof. Ali Hasyimy. Di Dalam buku ini pengarang membicarakan secara panjang lebar tentang sosok Hamzah Fansuri sebagai tokoh penyair sufi di Aceh. Dan di bagian terakhir dari buku ini, pengarang turut melampirkan hasil translitrasi naskah syair perahu dari aksara Arab Jawi ke aksara latin. Naskah tersebut memang telah ditranslitrasikan secara lengkap, namun alangkah sangat disayangkan karena buku tersebut hanya sebatas berusaha untuk mentranslitrasi saja, tanpa masuk jauh lebih dalam untuk menganalisa isi atau kandungan yang terdapat di dalam naskah tersebut. Di sinilah letak perbedaan antara penelitian yang ingin dilakukan oleh penulis dengan buku tersebut. Di mana penulis berusaha untuk menguak isi yang terdapat di dalam naskah syair Perahu sehingga nantinya akan ditemui bagaimana karakteristik tasawuf yang dimiliki oleh naskah tersebut. Manakala buku suntingan Abdul WM tersebut hanya berhenti pada translitrasi naskah semata.

Buku Hamzah Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry karangan Dr. Edwar Djamaris, MA dan Drs. Saksono Prijanto juga menjadi buku yang tak kalah pentingnya untuk disebutkan di dalam tinjauan perpustakaan ini. Buku ini secara sangat mendalam mengupas tentang biografi kehidupan dua tokoh besar dalam dunia intelektual Melayu klasik yaitu Hamzah Fansuri dan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry. Pada pembahasan tokoh Hamzah Fansuri disebutkan bahwa beliau merupakan sosok sastrawan sufi yang terkenal yang telah banyak melahirkan karya-karya sufi baik yang berbentuk prosa mau puisi atau syair. Sebagai buktinya, pengarang menukilkan naskah syair Burung Pinggai yang telah ditranslitrasikan dari aksara Arab Jawi ke aksara latin. Namun, sangat disayangkan, sebagaimana pengarang-pengarang yang lainnya, pengarang buku ini juga tidak melakukan analisis terhadap naskah syair Burung Pinggai kecuali hanya berhenti pada translitrasi naskah syair semata.

Sedangkan, Prof. Dr. Sangidu, M. Hum salah seorang guru besar sastra di Universitas Gajah Mada pernah menuliskan sedikitnya tiga (3) buah jurnal ilmiahnya, yang pertama berjudul Sastra Sufi di Aceh, dimana dalam jurnalnya beliau berbicara seputar naskah-naskah sufi yang pernah ditulis di Aceh. Dalam jurnalnya ini, pengarang mendeskripsikan beberapa prosa yang mengandungi nilai-nilai sufi. Diantaranya, syarbul asyiqin, al-muntahi dan miratul muhaqqiqin. Kemudian pada jurnal yang kedua, beliau menulis Allah Maujud Terlalu Baqi Karya Syaikh Hamzah Fansuri : Analisis Semiotik. Dengan sangat jelas dari redaksi judulnya, bahwa pengarang melakukan analisis terhadap karya sastra Hamzah Fansuri yang berjudul Allah Maujud Terlalu Baqi dengan menggunakan pendekatan semiotik. Dan jurnal yang ketiga adalah : Ikan Tunggal Bernama Fadhil Karya Syaikh Hamzah Fansuri : Analisis Semiotik. Sebagimana jurnalnya yang kedua, jurnal yang ketiga pengarang juga melakukan analisis terhadap naskah syair Ikan Tunggal dengan menggunakan pendekatan atau metode semiotik.

Di samping itu, ada sebuah tulisan yang sangat bernilai karena secara khusus membahas syair perahu, yaitu tulisan Vladimir Braginsky. Beliau - melalui sebuah artikelnya yang diterbitkan dalam jurnal KITLV pada tahun 1975 dengan judul Some remarks on the structure of the Syair Perahu by Hamzah Fansuri - berbicara tentang symbol-symbol sufistik yang digunakan Hamzah Fansuri di dalam syair perahunya melalui pendekatan sastra strukturalistik.

Dan tak kalah menariknya lagi bahwa baru-baru ini (Maret 2011) sudah diterbitkan sebuah yang membicarakan seputar karya-karya sastra Hamzah Fansuri dengan menggunakan pendekatan Hermeneutik. Buku tersebut berjudul : Wujudiyah Hamzah Fansuri dalam Perdebatan Para Sarjana. Buku yang asal mulanya berupa tesis magister yang diajukan oleh Syarifuddin kepada Pasca Sasrjana IAIN Ar-Raniry tahun 2000, mempokuskan pembahasannya pada doktrin wujudiyah Hamzah Fansuri dengan menjadikan karya-karya sastranya sebagai objek kajian. Namun beliau tidak memasukkan Syair Perahu sebagai bagian dari karya Hamzah Fansuri sehingga syair ini tidak mendapatkan porsi dalam tesisnya.

Selain itu, pada tahun 2010 yayasan PENA Banda Aceh juga telah menerbitkan sebuah buku yang membicarakan tentang Hamzah Fansuri dan beberapa tokoh ilmuwan Islam lainnya di Aceh pada abad XVI dan XVII. Buku tersebut berjudul : Warisan Filsafat Nusantara : Sejarah Filsafat Islam Aceh Abad XVI – XVII Masehi) yang ditulis oleh Ja’far S. Pd. I, MA. Hanya saja penulis memfokuskan pembicaraannya pada tema filsafat Islam dan memposisikan Hamzah Fansuri sebagai tokoh filosuf Islam. Buku ini juga memberi nilai penting yang tidak bisa diremehkan karena ia berbicara seputar pemikiran filsafat Hamzah Fansuri melalui ajaran-ajaran tasawuf falsafinya. Penulis juga tidak luput dari pembicaraan seputar tema yang kontra produktif yaitu aliran wujudiyah Hamzah Fansuri dalam pandangan para Ulama Aceh pada abad ke - 16 dan 17.

Dan yang terakhir, walaupun tidak berkaitan erat secara langsung dengan sastra sufi Hamzah Fansuri, namun sedikit banyaknya akan memberikan kontribusi yang sangat penting seputar relasi antara sastra dengan dunia sufi. Abdul Hadi Wachid menulis jurnalnya dengan judul Tasawuf Cinta Dalam Sastra Sufi, dimana beliau telah menemukan relasi yang sangat kuat antara sastrawan dengan dunia sufi. Hal ini perlu diberikan perhatian secara khusus mengingat sosok Hamzah Fansuri merupakan sastrawan sufi yang telah banyak melahirkan karya-karya agung, namun banyak menuai kontroversial dari kalangan-kalangan yang tidak mampu memahami setiap kalimat-kalimat yang dinukilkan olehnya. Setiap kata-kata yang dituliskan oleh Hamzah Fansuri di dalam syair sufinya merupakan ungkapan rindu dari sebuah perasaan cinta yang mendalam dan ia dapat merasakan penyatuan cintanya dengan cinta Tuhan.

Abdul Wachid mengatakan bahwa cinta merupakan sumber dari hubungan antara Tuhan dengan makhluk -Nya, yakni manusia dan alam semesta. Oleh karenanya, cinta menjadi tema penting di dalam tasawuf, yang memang selalu mengungkap hubungan antar-ketiganya. Pemahaman demikian di antaranya yang memposisikan cinta menjadi peringkat tingkatan tertinggi di dalam tasawuf. Oleh sebab itu, memaknai syair para sufi haruslah dipahami dengan konsep cinta mereka. Dengan berpegang pada konsep demikian, maka untuk memahami setiap kata-kata yang ditulis oleh Hamzah Fansuri akan dapat difahami secara nyaman tanpa ada rasa curiga dan syak wasangka buruk terhadapnya.

Berdasarkan uraian di atas, nampak bahwa penelitian terhadap syair perahu secara khusus telah dilakukan oleh Vladimir Braginsky dengan menggunakan pendekatan sastra strukturalistik. Tentunya ini belum mencukupi untuk penelitian terhadap naskah Syair Perahu, karena masih banyak pendekatan sastra lainnya yang bisa diterapkan dalam penelitian terhadap syair tersebut. Makanya di dalam penelitian ini penulis juga ingin melakukan penelitian terhadap syair perahu, namun menggunakan pendekatan yang lain yaitu pendekatan sastra memetik, sehingga akan nampak perbedaan antara penelitian ini dengan beberapa penelitian yang telah terdahulu.

E. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Karenanya di dalam melakukan penelitian ini, penulis akan melalukan library research dengan cara mengumpulkan data-data baik data primer, seperti naskah atau manuskrip syair Perahu, maupun data sekunder sebagai data pendukung. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan naskah hasil translitrasi yang dilakukan oleh J. Doorenbos dalam disertasinya yang kemudian dikutip secara lengkap oleh Abdul Hadi WM dan L.K. Ara dalam bukunya yang berjudul Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh.

Setelah data–data tersebut diverifikasi, maka selanjutnya penulis menganalisis secara mendalam naskah syair Perahu dengan menggunakan pendekatan sastra, yaitu pendekatan memetik sehingga nantinya diharapkan akan terbentuk sebuah pemahaman yang tepat tentang karakteristik sufi yang terkandung di dalam isi naskah tersebut.

Adapun yang dimaksud oleh penulis dengan pendekatan memetik di sini adalah pendekatan yang mendasarkan pada hubungan karya sastra dengan lingkungan sosial budaya yang melatarbelakangi lahirnya sebuah karya sastra. Pendekatan ini melihat bahwa sebuah karya sastra tidak lahir secara serta merta, akan tetapi ia terikat dengan situasi dan kondisi sosial budaya pada saat ia ditulis. Begitu juga halnya dengan syair Perahu, dimana Hamzah Fansuri menuliskan syair tersebut berdasarkan tuntutan kondisi di sekitarnya. Makanya, untuk mengetahui makna yang terkandung di dalam syair tersebut, penulis menggunakan pendekatan memetik di dalam penelitian ini.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Sastra dan Tasawuf

Burhan Nurgiyantoro - salah seorang pakar ilmu kesusastraan di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta - mengatakan dalam bukunya yang berjudul “Teori Pengkajian Sastra” bahwa sebuah karya sastra merupakan fenomena kehidupan manusia, yang secara garis besar menyangkut tiga perkara. Pertama, persoalan manusia dengan dirinya sendiri. Kedua, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dalam hubungannya dengan lingkungan alam. Dan ketiga hubungan manusia dengan Tuhannya.[3] Berdasarkan pandangan ini, maka pembahasan yang ingin memfokuskan pada hubungan antara sastra dan tasawuf, dapat merujuk kepada point yang terakhir di atas yaitu pada fungsi sastra sebagai sarana untuk mengungkapkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Dalam hal ini, maka seorang tokoh sufi ketika ingin mengungkapkan rasa cinta dan keintiman antara dirinya dengan sang Tuhan, dia akan menggunakan sastra sebagai sarana untuk mengekspresikan ungkapan-ungkapan tersebut melalui tulisan yang indah yaitu sastra, baik dalam bentuk prosa maupun syair.

Lebih lanjut lagi Khairul Fuad, mengatakan bahwa selain berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan perasaan, sastra juga memiliki keterkaitan yang timbal balik (mutualisme) dengan dunia sufi atau tasawuf.[4]. Dengan bahasa lain bahwa antara sastra dan tasawuf mempunyai hubungan yang sangat erat. Hal ini terbukti pada fakta-fakta sejarah bahwa sejak dimulainya tradisi penulisan sastra sufi pada abad ke 7 dengan tokohnya seperti Hasan Basri dan Rabiah al-Adawiyah[5], maka para ahli sufi menggunakan sastra sebagai media untuk mengungkapkan pengalaman ruhani mereka.

Jadi dalam dunia tasawuf tidak dapat dipungkiri bahwa sastra merupakan media yang digunakan oleh kaum sufi untuk mengungkapkan pengalaman spiritual mereka sejak dahulu kala, baik dalam bentuk hikayat, kisah perumpamaan, anekdot, alegori, puisi atau syair. Dan puisi telah mendominasi corak kegiatan intelektual kaum sufi. Banyak para sufi yang mengungkapkan pengalaman ruhaninya dalam bentuk syair kendati mereka bukan para penyair. Artinya para sufi ketika menulis karya-karya sastra sufistik, mereka tidak bermaksud untuk dikenal sebagai sastrawan atau tidak bermaksud untuk menjadikan sastrawan sebagai sebuah profesi dalam kehidupan mereka. Melainkan mereka semata-mata menulis karya sastranya sebagai sarana untuk mengungkapkan kondisi jiwa dan pengalaman bathin mereka dengan Tuhan.

B. Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Sastra Sufi

Setelah membicarakan sekilas hubungan antara sastra dan tasawuf, maka di sini penulis ingin membicarakan sastra sufi sebagai sebuah genre baru dalam perjalan sejarah kesusastraan. Sebagai sebuah genre dalam sastra, sastra sufi sebenarnya tidak hanya terdapat dalam dunia muslim, akan tetapi ia juga terdapat di dunia non muslim. Namun di dunia barat, sastra sufi atau biasanya sering disebut dengan sastra mistik tidak begitu populer serta tokohnya pun tidak banyak yang muncul ke permukaan. Diantara tokoh sastrawan sufi di barat adalah St. Jones of the Cross yang beragama Kristen[6].

Dalam dunia Islam, tradisi penulisan sastra sufi telah dimulai sejak abad ke - 7. Sebelumnya sastrawan Arab belum mengenal genre sastra sufi. Di saat ummat Islam sedang terpesona dengan kemajuan yang dicapainya dalam segala bidang pada masa kejayaan kerajaan Abbasiah, banyak diantara mereka yang eforia dengan kemajuan tersebut. Para pemimpin kerajaanpun banyak berbuat maksiat di istana beserta dengan para pejabat istana seperti : berpesta minuman keras, judi, berfoya-foya, bermain perempuan dan mereka tertipu oleh keindahan dunia sehingga melupakan akhirat. Para sastrawan istanapun ikut serta dalam perbuatan yang tidak disukai oleh agama. Akhirnya, disaat sekelompok orang sedang mabuk akan kehidupan dunia, muncullah sekelompok orang yang masih sadar akan ajaran-ajaran agamanya. Lalu mereka memisahkan dirinya dengan kelompok tersebut. Dari sinilah muncul embrio genre sastra sufi yang ingin memberikan nuansa yang lebih damai dan tentram dalam kehidupan di dunia ini sesuai dengan tuntunan Sang Khalik[7].

Adapun tokoh pertama yang telah mengumpulkan antology puisi sufi yaitu Ja’far al-Khuldy (wafat 939 M). Beliau telah mengumpulkan puisi-puisi sufi yang masih berserakan sejak abad ke 8 M hingga abad ke 10 M. Di dalam antology puisinya beliau berhasil menghimpun ribuan puisi 130 penyair sufi. Namun alangkah sangat disayangkan karena naskah asli antology puisi tersebut sudah hilang ditelan waktu dan hingga saat ini belum ditemukan wujudnya. Hanya sebagian kecil saja yang sempat diabadikan dalam naskah antology penyair sufi lain[8].

Banyaknya syair-syair sufi yang sempat direkam oleh antology Ja’far al-Khuldi membuktikan bahwa perkembangan sastra sufi sangat marak sejak abad ke – 8 sehingga pada abad-abad selanjutnya. Di antarasyair-syair sufi yang terkenal pada abad ke – 8 hingga abad ke – 11 yang masih dapat dibaca karyanya hingga hari ini adalah Rabi’ah al-Adawiyah, Dzu al-Nun Mishri, Abu Yazid al-Bisthami, Syaqiq al-Balkhi , Sarri Saqathi, Junaid al-Baghdadi, Abu Bakar al-Syibli, Abu al-Hasan al-Nuri, Husin Ibnu Mansur al-Hallaj, Niffari, Abu Qasim al-Sayyani, Ahmad al-Ghazali dan lain sebagainya[9].

Setelah melewati fase perjalanan sejarah yang sangat panjang, syair sufi Arab mencapai pada puncak kejayaannya pada abad ke – 12 dan 13 dengan munculnya penulis-penulis dan pemikir-pemikir tasawuf terkemuka seperti Ibnu ‘Arabi, Tustari, al-Qunawi, Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari, Ibnu al-Faridh, Ibnu Thufail, al-Qusyairy, al-Ghazali dan lain sebagainya[10].

Ternyata hasil karya para sastrawan sufi pada masa kejayaan ini juga telah ikut memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan sastra sufi di luar dunia Arab, termasuk diantaranya adalah dunia nusantara Melayu Islam pada abad ke -16 dan 17 M. Kontribusi tersebut banyak didominasi dalam bentuk gagasan atau ide yang terdapat di dalam karya sastrawan nusantara Melayu Islam. Hamzah Fansuri misalkan, beliau banyak dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Arabi tentang gagasan tasawuf falsafi[11]. Dan banyak lagi tokoh-tokoh sastrawan lainnya di nusantara Melayu ini yang terpengaruh oleh sastrawan sufi Arab yang telah disebut tadi di atas.

Dalam lintasan perjalanan sejarahnya yang panjang, kehadiran tradisi penulisan sastra sufi di nusantara Melayu dipengaruhi oleh beberapa factor. Menurut Abdul Hadi WM factor-faktor tersebut setidaknya ada dua yaitu ; yang pertama, adanya perhatian khusus dari para ulama terhadap sastra dan nilai estetika dalam penulisan ajaran-ajaran agama Islam[12]. Mereka telah lama mengembangkan estetika dan konsep-konsep sastra yang benar-benar dilandasi pemikiran mendalam. Faktor yang kedua adalah keperluan mereka untuk mengembangkan tafsir tersendiri atas teks keagamaan yang menggunakan bahasa puitik[13].

Sepertinya para ulama di nusantara Melayu, khususnya di Aceh, sangat memahami betul akan pentingnya nilai-nilai estetika dalam tradisi penulisan ajaran-ajaran keagamaan. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka menulis karya-karnyanya supaya memikat perhatian para pembaca dan memerikan bekas dalam sanubari para pembaca. Berbeda misalkan seseorang yang menulis sebuah gagasan atau ide dengan mengabaikan nilai-nilai estetika dalam penulisannya, maka tulisan tersebut sering membuat para pembaca bosan dan tidak menarik karena tulisan tersebut kering serta gersang dari nilai-nilai estetika. Maka sangat jelas di sini bahwa kedudukan dan fungsi sastra atau nilai-nilai estetika dalam sebuah tulisan perlu mendapat perhatian dari para penulis dan hal ini disadari betul oleh para ulama di nusantara Melayu. Dengan demikian, maka muncullah pelabelan istilah “ sastra “ pada semua karya keagamaan mereka yang kemudian dikenal dengan sebutan sastra sufi atau sastra kitab, karena karya-karya tersebut dikemas dengan bahasa-bahasa sastra yang indah dan menarik untuk dibaca.

C. Tokoh-Tokoh Sastrawan Sufi dan Karya-Karya Sufinya Dalam Lintasan Sejarah

Selain nama-nama tokoh yang telah disebutkan dalam pembahasan singkat sejarah kelahiran dan perkembangan sastra sufi, dalam pembahasan ini penulis juga merasa penting untuk berbicara sekilas beberapa tokoh-tokoh sastrawan sufi yang terkenal beserta menyebutkan karya-karya sastra sufinya sebagai bahan perbandingan dalam membaca karya sastra sufi Hamzah Fansuri pada bab selanjutnya.

Tokoh yang patut penulis sebutkan dalam urutan yang pertama dalam pembahasan ini adalah Ibnu Arabi (wafat 1240 M) seorang tokoh sufi Arab yang sangat terkenal. Salah satu karya sastra sufinya adalah Tarjuman al-Ashwaq sebuah antologi syair puisi yang sangat indah dan penuh dengan makna-makna sufistik yang mendalam. Antologi syair ini dikemas dalam bentuk ghazal[14] sehingga telah menimbulkan pro dan kontra para pembaca.

Adapun yang membuat para pembaca kontra dengan syair-syair ini adalah karena di dalamnya terdapat deskripsi wanita cantik yang menjadi topic utama. Menurut mereka hal ini tidak tepat bagi seorang sufi karena tema-tema cinta terhadap wanita adalah cinta birahi yang bersumber dari hawa nafsu manusia. Sungguh tidak layak dalam karya sastra sufi membicarakan cinta birahi manusia terhadap manusia.

Sedangkan kelompok yang pro dalam merespon karya sufi ini adalah karena tokoh wanita yang menjadi topic utama pembicaraan Ibnu Arabi adalah tokoh imajinasi bukan tokoh realitas. Ia merupakan representasi dari sifat Tuhan yang sangat Indah. Bukankah Tuhan itu indah dan menyukai keindahan? Jadi tokoh wanita cantik merupakan unsur imajinasi Ibnu ‘Arabi dalam mengemas antologi syair nya. Hal ini dapat diterima karena salah satu unsur yang harus terdapat dalam karya sastra adalah unsur imajinasi atau unsur khayalan[15]. Sedangkan alasan ghazal dipilih sebagai bentuk atau pola kemasan syairnya adalah karena pada saat itu ghazal sangat diminati oleh para pembaca bila dibandingkan dengan pola kemasan yang lainnya[16].

Adapun gagasan utama yang terdapat di dalam antologi syair sufi ini adalah tentang cinta atau lebih terkenal dengan sebutan almahabbah. Selain itu di dalamnya juga terdapat pengalaman spiritual seorang sufi, maqam-maqam yang dilalui oleh seorang sufi dan ajaran wahdatul wujud. Adapun cinta yang dimaksud disini adalah cinta sejati seorang sufi yang ditujukan kepada sang Tuhannya. Cinta tersebut bukanlah cinta semu, melainkan cinta hakiki yang melebihi dari cinta kepada makhluk[17]. Secara umum gagasan-gagasan yang terdapat dalam syair sufi Ibnu Arabi itu juga terdapat di dalam karya-karya Hamzah Fansuri, karena tokoh ini memang terpengaruh oleh Ibnu ‘Arabi dalam bidang tasawuf falsafinya sebagaimana yang pernah penulis singgung di atas.

Selain Ibnu ‘Arabi, contoh lain tokoh sufi adalah al-Sana-ie dengan karya monumentalnya yang berjudul حديقة الحقيقة وشريعة الطريقة (Hadiqah al-Haqiqah wa Syari’ah al-Thariqah). Dalam karya ini penulis memberikan deskripsi tentang esensi dari sebuah karya sastra sufi. Di dalamnya terdapat pandangan penulis tentang zat Tuhan, kerasulan Nabi Muhammad S.A.W, makrifat, tawakkal, syurga, falsafah dan cinta (al-mahabbah)[18].

Tokoh sufi lain yang tak kalah pentingnya adalah Farid al-Din al-‘Atthar al-Nisabury ( فريد الدين العطار النيسابوري) dengan karya sufinya yang berjudul Manthiq al-Thair (منطق الطير ). Dalam karya monumental ini penulis menyampaikan kisah perjalanan burung-burung yang mencari raja mereka yang bernama Simurgh secara menarik dan alegoris. Di tengah perjalanannya yang jauh dan berbahaya itu begitu banyak rintangan dan halangan menghadang setiap mereka. Mereka yang tidak tahan jatuh terkulai pada awal dan tengah perjalanan, sehingga pada akhirnya hanya tiga puluh (30) burung yang mampu berhasil mencapai tujuannya dengan sempurna[19].

Dalam kisah tersebut burung-burung melambangkan jiwa-jiwa manusia yang rindu kepada asal-asal keruhaniannya di alam ketuhanan dan Simurgh adalah sebuah symbol manifestasi keindahan Tuhan yang hendak mereka lihat dalam maqam Ma’rifat. Agar mereka sampai ke tujuannya, burung-burung tersebut mesti melalui tujuh (7) lembah keruhanian. Tujuh lembah itu sebagai symbol dari maqam-maqam dan keadaan-keadaan batin seorang sufi yang sedang menjalani ibadah suluk[20].

Adapun makna dari symbol tersebul adalah : Pertama lembah pencaharian (al-thalab). Kedua lembah cinta birahi (‘isyq). Ketiga lembah pemahaman dan pengenalan Tuhan (Ma’rifat). Keempat lembah kepuasan ruhani (isthigraq). Kelima lembah keesaan (tauhid). Keenam lembah ketakjuban (hayyrah). Ketujuh lembah kefaqiran dan kefanaan (faqir dan fana). Setelah burung-burung tersebut melewati tahapan lembah yang terakhir, maka mereka akan hidup kekal abadi dalam Tuhannya. Dengan cara yang demikianlah burung-burung itu mengenali diri mereka yang sejati dan menyaksikan hakekat tertinggi dan yang terdalam dari segala kewujudan yang ada[21].

Sementara di antara tokoh-tokoh sastrawan sufi yang ada di Indonesia, khususnya di Jawa, yang patut disebutkan di sini adalah Sunan Bonang. Beliau salah seorang wali songo yang pernah melahirkan karya sastra sufi. Namun di Jawa lebih dikenal dengan sebutan sastra suluk bila dibandingkan dengan sastra sufi. Hal ini disebabkan karena pada umumnya karya-karya tersebut menggambarkan pandangan hidup orang yang mengamalkan ilmu suluk atau ilmu tasawuf. Di antara karya-karya sastra sufi Sunan Bonang adalah Suluk Wijil, Suluk Regol, dan Suluk Kalipah Asmara. Suluk Wijil umpamanya, mengungkapkan ajaran dan pengalaman keruhanian Sunan Bonang yang telah mengamalkan ilmu suluk atau jalan makrifah[22].

Demikianlah pembahasan dalam bab ini yang menunjukkan bahwa karya sastra sufi itu lahir sebagai respon dari sebagian kelompok yang masih sadar akan ajaran-ajaran agama terhadap kehidupan manusia yang sudah melupakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya karena telah terpedaya dengan berbagai kemewahan hidup. Dan kenyataan membuktikan bahwa tokoh-tokoh sastrawan sufi baik di Arab dan maupun di Persia telah turut memberikan kontribusi yang besar dalam perjalanan sejarah sastra sufi di nusantara Melayu, terutama pada gagasan yang terdapat dalam karya sastra sufi. Gagasan-gagasan atau tema-tema yang terdapat dalam sebuah karya sastra sufi biasanya berupa al-mahabbah yaitu ungkapan rasa cinta sejati seorang sufi terhadap Tuhannya, al-makrifah dan beberapa maqam-maqam atau martabat-martabat lain yang terdapat dalam ilmu tasawuf.

BAB III

DESKRIPSI NASKAH SYAIR PERAHU

A. Naskah Yang Kontroversial

Naskah Syair Perahu mempunyai kontroversial tentang kepengarangannya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa syair tersebut dikarang oleh Hamzah Fansuri dan ada pula yang meragukannya dengan mengatakan bahwa Syair Perahu bukan karangan original Hamzah Fansuri. Munculnya kontroversial tentang siapa sebenarnya pengarang Syair Perahu tersebut baru muncul setelah Vladimir I. Braginsky menulis sebuah artikelnya yang bisa berjudul “Some Remarks on the Structure of the Syair Hamzah Fansuri” pada tahun 1975[23]. Tp sebelum artikel itu dipublikasikan, semua orang percaya bahwa Syair Perahu adalah benar dikarang oleh Hamzah Fansuri dan belum ada yang meragukan kepengarangannya.

Setelah Vladimir I. Braginsky mempublikasikan artikelnya itu, pada tahun 1986 dua peneliti lain yang bernama G. W. J. Drewes dan L. F. Brakel juga turut meragukan originalitas tokoh Hamzah Fansuri sebagai pengarang Syair Perahu di dalam bukunya yang berjudul “The Poems of Hamzah Fansuri”[24].

Sejauh pengetahuan penulis, hanya dua buah penelitian saja yang telah berani meragukan Hamzah Fansuri sebagai pengarang Syair Perahu, yaitu penelitian yang dibuat oleh V. I Braginsky dan Drewes bersama Brakel. Sementara Abdul Hadi WM dalam bukunya Tasawuf Yang Tertindas Kajian Hermeunetik Terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri sepertinya juga turut meragukan kepengarangan Syair Perahu, namun beliau tidak memberikan alasan secara personal, melainkan hanya mengutip beberapa alasan yang pernah dikemukakan oleh Vladimir I Braginsky. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 2001. Sementara dalam bukunya yang lain yang diterbitkan pada tahun 1983 dengan judul “Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh”, beliau mengakui bahwa Syair Perahu adalah karya original Hamzah Fansuri.

Menurut penilaian penulis pribadi, sikap Abdul Hadi WM yang pada awalnya mengakui Syair perahu sebagai karya Hamzah Fansuri dan kemudian beliau meragukannya, itu semata-mata karena beliau terpengaruh dengan dua hasil penelitian yang dihasilkan oleh para peneliti dari barat tersebut. Hal ini terbukti bahwa di dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2001, beliau tidak menambahkan atau berkomentar lebih panjang lagi dan juga tidak memberikan alasan-alasan yang terbaru atau alasan-alasan yang berbeda dengan V. I Braginsky.

Sementara para peneliti lainnya sejauh yang penulis tahu, belum ada yang berani meragukan Syair Perahu sebagai karya Hamzah Fansuri. Mereka itu antara lain : Ali Hasyimi, Wan Mohammad Shaghir Abdullah, Edward Djamaris, Saksono Priyanto, M. Arif Anshori, J. Doorensbos, Teuku Iskandar, Liaw Yock Fang, Syed Naquib al-Attas, Hawash Abdullah, Hajjah Sri Mulyati dan lain sebagainnya.

Menanggapi masalah kontroversial ini, penulis bersikap terbuka terhadap berbagai pendapat yang ada dan menghargai pendapat-pendapat baru yang berbeda dengan pendapat umum. Pada prinsipnya siapa saja boleh bebas berpendapat sejauh ia mampu mengemukakan argumen-argumen ilmiah yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Terkait dengan kontroversialitas kepengarangan Syair Perahu ini, penulis masih tetap berpegang teguh pada pendapat umum para peneliti yang telah tersebut nama-namanya di atas. Namun penulis juga menghargai usaha yang telah dilakukan oleh sekelompok kecil para peneliti yang kritis tersebut. Dengan kata lain, penulis tidak membantah pandangan mereka, melainkan penulis memandang perlu dilakukan usaha yang lebih lanjut lagi untuk meneliti secara mendalam apakah benar bahwa Syair Perahu ini bukan karya Hamzah Fansuri. Bisa jadi hasil penelitian lanjutan itu akan mendukung pendapat V.I Braginsky dan kawan-kawannya atau malah membantah pendapat mereka selama ini. Menurut penulis, rasanya tidak fair hanya dengan membatasi pada dua penelitian saja untuk menghakimi keoriginalitas kepengarangan sebuah karya sastra sufi yang sudah sangat populer. Sehingga usaha untuk melanjutkan penelitian yang telah pernah dilakukan oleh V. I Braginsky dan Drewes bersama rekannya Brakel, adalah sebuah keniscayaan dalam dunia ilmiah.

Sedangkan di dalam penelitian ini, penulis tidak bertujuan untuk membuktikan siapakah pengarang yang sesungguhnya Syair Perahu, karena hal tersebut tidak termasuk dalam permasalahan yang akan diselesaikan di dalam penelitian ini. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai mana yang telah penulis cantum pada bab pendahuluan yaitu untuk mengetahui bagaimana karakteristik sastra sufi yang terdapat dalam Syair Perahu. Artinya, penelitian ini ingin melihat pada kandungan yang terdapat dalam Syair Perahu dan kaitannya dengan realitas soasial keagamaan pada masa syair tersebut dikarang. Oleh sebab itu, penelitian ini tidak melihat pada kontroversialitas kepengarangannya, karena penulis perpedoman pada pendapat kebanyakan para peneliti yang telah tersebut namanya di atas. Berdasarkan itulah, makanya penulis menganggap masih perlu penelitian lain untuk membuktikan siapa sesungguhnya pengarang Syair Perahu.

B. Inventarisasi Naskah

Sejauh pengetahuan penulis, naskah Syair Perahu terdapat tiga versi, sebagaimana yang digambarkan oleh Abdul Hadi WM dalam buku Tasawuf Yang Tertindas : Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri[25]. Versi yang pertama terdapat di di dalam Perpustakaan Leiden University dengan kodenya MS Cod. Or. Leiden 8874. Versi ini terdiri dari 42 bait yang termuat di dalam 14 halaman.

Sementara itu versi yang kedua terdapat di dua tempat yang berbeda, yaitu di Perpustakaan Leiden University dengan kodenya MS Cod. Or. Leiden 3374 dan di dalam Perpustakaan SOAS[26], London University dengan kodenya MS SOAS London 16218. Versi ini agak mirip dengan versi yang pertama, namun bait-baitnya lebih panjang karena terdiri dari 80 bait.

Dan versi yang ketiga, naskahnya ditemukan di Sumatera Selatan dengan menggunakan tulisan Rencong, yaitu huruf Melayu Lama sejenis huruf Mandailing, Lampung dan Bugis. Naskah Syair Perahu versi yang ketiga ini, sekarang disimpan di dalam dua tempat yang berbeda juga yaitu di dalam Indian Office Library, London dengan kodenya MS Malay A2 dan di dalam Perpustakaan SOAS dengan kode MS SOAS London 41394. Jumlah bait yang dikandungi oleh versi yang ketiga ini sebanyak 98 bait. Pada bait yang ke 97 berbentuk pantun, yang menurut dugaan telah ditambah oleh penyalin naskah. Bait 10 baris terakhir merupakan sajak didaktis yang dipengaruhi oleh mantra. Versi ini telah ditranslitrasikan oleh Braginsky.

Di dalam penelitian ini, penulis berpedoman pada versi yang pertama. Adapun alasan penulis menggunakan versi yang pertama ini adalah, karena versi ini isi teksnya lebih lebih terkenal di masyarakat public, seperti yang terdapat di dalam lirik lagu Kande Rafli, salah seorang seniman kontemporer dalam bidang musik islami di Aceh. Demikian juga versi yang pertama ini adalah versi telah ditransliterasi oleh J. Doorenbos dalam disertasi doktoralnya di Leiden University pada tahun 1933 dengan judul “De Geschriften Van Hamzah Pansoeri”. Kemudian hasil transliterasi ini dikutip secara utuh oleh Abdul Hadi WM dan LK. Ara dalam bukunya yang berjudul “Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh” dan oleh Sutan Taqdir Ali Syahbana dalam bukunya yang berjudul “Puisi Lama”[27].

Dalam pelaksanaan penelitian ini, penulis hanya memiliki naskah Syair Perahu versi pertama hasil translitrasi yang dilakukan oleh J. Doorenbos ketika menulis disertasi doctoralnya di Leiden University dan kemudian dikutip secara lengkap dan utuh oleh Abdul Hadi WM dan LK. Ara. Oleh karena itu, maka naskah yang digunakan sebagai rujukan utama dalam penelitian ini adalah naskah dalam bentuk transliterasi yang telah disebut tadi, karena untuk mendapatkan naskah dalam bentuk aslinya sama sekali belum memungkinkan bagi penulis saat ini, karena keterbatasan dana yang dimiliki.

BAB IV

KARAKTERISTIK SASTRA SUFI DALAM SYAIR PERAHU

I. Prolog Syair

Sebagaimana tradisi bangsa Arab yang menulis prolog[28] syair[29] sebelum masuk ke dalam tema-tema inti dalam syairnya, maka Hamzah Fansuri pun demikian juga kelihatannya. Penulis menemukan tradisi yang sama dengan bangsa Arab dalam Syair Perahu. Adapun yang dimaksud dengan prolog di sini adalah semacam kata-kata pengantar yang diberikan oleh penyair sebelum memasuki tema yang ingin dibicarakan. Tentunya prolog ini bertujuan untuk memberikan arah kepada pembaca agar mengetahui sejak awal kemana sesungguhnya penyair ingin mengajak pembacanya. Oleh karena itu prolog selalu berada paling atas dari bait-bait syair setelah redaksi judul. Ibarat sebuah rumah, maka prolog itu bagaikan pintu utama yang selalu berada di depan. Dan setiap orang yang hendak masuk ke dalam rumah tersebut, mesti melalui pintu ini, tidak boleh pintu yang lain, kecuali pemilik rumah sendiri yang bisa memasuki rumahnya dari pintu mana ia sukai. Sementara kalau para tamu, maka mereka harus masuk melaui pintu utama ini. Berikut bunyi redaksi prolog yang ditulis oleh Hamzah Fansuri dalam Syair Perahu :

Inilah gerangan suatu madah

Mengarangkan syair terlalu indah

Membetuli jalan tempat berpindah

Di sanalah i’tikat diperbetuli sudah[30]

Dari prolog itu nampak bahwa Hamzah Fansuri ingin memberitahukan kepada para pembacanya bahwa ia akan menuliskan syair yang menggunakan bahasa-bahasa yang indah dan penuh dengan nilai-nilai estetika yang tinggi[31]. Adapun maksud dan tujuan Hamzah Fansuri menulis syair itu adalah untuk memperbaiki i’tikat ummat muslim atau biasa dikenal dengan sebutan al-aqidah al-islamiyah yang menurut dia sudah melenceng atau keluar dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Oleh Hamzah Fansuri merasa perlu untuk menitikberatkan pada permasalahan ini karena beliau menemukan fenomena yang salah dalam praktik ibadah yang dilakukan oleh sebagian ahli tarekat pada masa beliau hidup. Prolog ini hanya terdiri dari satu bait saja, kemudian penyair langsung memasuki ke dalam tema pembicaraan utamanya yaitu tentang perahu.

II. Simbol Perahu

Dalam bait selanjutnya, Hamzah Fansuri sudah memasuki pada tema yang akan dibicarakan. Namun tetap diawali dulu dengan pembahasan tentang simbol atau tamsilan sufi yang terkenal yaitu perahu. Tentunya penyair memiliki sejumlah alasan atas penggunaan simbol perahu dan simbol ini merupakan simbol utama dalam syair ini, sehingga judulnya pun diambil dari simbol ini.

Secara letak geografis, Aceh merupakan daerah yang dikelilingi oleh lautan yang sangat luas dan ia terkenal sebagai daerah maritim. Pada masa dahulu lalu lintas yang menghubungkan antara satu kerajaan dengan kerajaan lain pada lintasan international adalah adalah laut. Sedangkan pada lintasan national biasanya digunakan jalur sungai. Baik jalur laut maunpun jalur sungai, kedua-duanya menggunakan perahu sebagai alat transportasi yang paling utama. Sehingga perahu bukanlah suatu hal yang asing bagi masyakarat Aceh, baik pada zaman dahulu hingga zaman kontemporer ini. Jadi setidaknya, alasan Hamzah Fansuri memilih perahu sebagai simbol utama dalam syair sufinya, agar perumpamaan yang ia berikan itu akan benar-benar difahami oleh pembaca dan mereka bisa merasakan perjalanan batin seorang sufi dalam pencarian Tuhannya. Makanya, menurut penilaian penulis, sangat tepat sekali Hamzah Fansuri memilih tamsilan perahu dalam usahanya untuk membawa pembaca ke arah makna atau tema yang ingin beliau bicarakan nantinya. Ini merupakan alasan yang berkaitan dengan kenyataan ataupun realitas kehidupan masyakarat Aceh pada saat Syiar Perahu ini ditulis.

Adapun alasan lain dari pemilihan simbol perahu ini karena dalam tradisi penulisan sastra sufi di Timur Tengah, baik Arab maupun Parsi, juga menggunakan simbol ini, walaupun penggunannya di sana agak terbatas[32]. Sebagaimana yang telah pernah penulis singgung dalam bab dua, bahwa Hamzah Fansuri banyak dipengaruhi oleh sastrawan sufi baik dari Arab maupun dari Parsi. Jadi sangat wajar saja jika beliau juga menggunakan simbol Perahu sebagai salah satu simbol utama dalam karya sastra sufinya. Bedanya kalau di Timur Tengah, penggunaan simbol Perahu sangat terbatas - sebagaimana yang diungkapkan oleh Vladimir I Braginsky - sementara kalau di Nusantara Melayu penggunaan simbol ini sangat banyak ditemukan. Bahkan oleh murid Hamzah Fansuripun yang bernama Syamsuddin As-sumatrani juga turut menggunakan simbol ini dalam karya-karya sufinya.

Menurut hemat penulis, hal ini wajar-wajar saja terjadi karena kondisi geografis antara kedua wilayah ini sangat berbeda. Wilayah Timur Tengah merupakan wilayah yang banyak dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus. Dan alat transportasi utama yang diandalkan oleh mereka adalah unta atau keledai. Sementara wilayah Nusantara Melayu merupakan wilayah maritim yang banyak dikelilingi oleh lautan yang maha luas. Dan perahu merupakan alat transportasi utama yang digunakan oleh warga setempat. Makanya, para penyair sufi di Nusantara Melayu ini, banyak menggunakan simbol perahu dalam karya mereka, karena sesuai dengan realitas kehidupan sebuah masyarakat dimana karya itu ditulis.

Dalam Al-quran sendiri yang menjadi sumber rujukan utama dalam karya sastra sufi, banyak disebutkan kosa-kata perahu atau kapal laut yang dalam bahasa Arab disebut sebagai al-fulk. Namun pemaknaannya beraneka ragam sesuai dengan konteksnya. Di antaranya adalah sebagiman simbol keimanan seseorang yang kadang sedang naik dan juga kadang sedang turun. Misalnya dalam surat al-Angkabut ayat 65 Allah berfirman :

فإذا ركبوا في الفلك دعوا الله مخلصين له الدين فلما نجاهم إلى البر إذا هم يشركون (العنكبوت: 65 )

Artinya: manakala mereka berada di dalam kapal laut, mereka berdo’a kepada Allah secara penuh keihklasan dan ketulusan hati. Tapi manakala mereka sudah sampai ke tujuan (di darat) mereka dengan seketika menjadi musyrik.

Dari ayat ini menggambarkan kondisi keimanan seseorang ketika berada dalam cobaan atau musibah, maka imannya menjadi bagus, kental dan mantap. Dan ia merasa begitu dekat dengan Allah. Akan tetapi manakala ia sudah keluar dari cobaan dan musibah itu, ia kembali melupakan Allah dan seolah-olah ia tidak pernah mengharap bantuan dari Allah. Inilah saat-saat iman sedang menipis dan barometernyapun menurun. Ini adalah salah satu makna simbol dari perahu atau kapal laut yang terdapat di dalam al-Quran, di samping terdapat makna-makna simbolik lainnya.

Sedangkan dalam tradisi penulisan karya sastra sufi, maka makna simbolik dari perahu yang terdapat di dalam Syair Perahu karya Hamzah Fansuri misalkan, merupakan sebagai seorang hamba yang sedang hidup di permukaan bumi ini dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Dan setelah waktu itu berakhir ia akan pindah beralih ke kehidupan di alam lain yang bersifat abadi, yaitu hari akhirat. Mengingat tema utama yang terdapat dalam syair ini adalah tentang simbolisme perahu, maka jumlah bait yang membicarakan tentang perahu mencapai 26 bait. Ini merupakan jumlah bait yang sangat banyak bila dibandingkan dengan tema sampingan lainnya, seperti tema ekskatologi alam kubur dan iman, tauhid serta makrifat.

Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana Hamzah Fansuri mendeskripsikan simbol perahu, berikut kutipan bait syairnya :

Wahai muda, kenali dirimu

Ialah perahu tamsil tubuhmu

Tiadalah berapa lama hidupmu

Ke akhirat jua kekal dirimu[33]

Dari petikan bait syair ini jelas bahwa kehidupan ini hanya bersifat sementara saja dan semua manusia suatu saat akan menuju ke alam yang bersifat kekal. Seorang manusia yang hidup di dunia ini bagaikan sebuah perahu yang sedang berlayar di tengah lautan yang maha luas. Pelayaran ini tentunya akan menuju ke sebuah tempat yaitu alam akhirat. Manakala seorang manusia telah menemui ajalnya, maka lautan yang ia harungi selama ini telah selesai dan ia sudah berada ke tempat tujuan, yaitu alam yang bersifat abadi.

Selama mengarungi luasnya lautan, seorang pelayar mesti memiliki kompas sebagai pedoman ataupun petunjuk arah supaya ia tidak tersesat diombang ambing oleh kerasnya ombak di lautan yang luas. Kalau ia mengabaikan kompas ini, maka ia dapat dipastikan tersesat dan tidak akan sampai ke tujuan utamanya. Ini merupakan nasehat dan pengajaran bagi seorang muslim sejati agar berpedoman kepada Alquran dan al-hadist dalam kehidupannya sehari-hari. Seorang muslim yang meninggalakan alquran dan al-Hadist, ibarat seorang pelayar di tengah lautan luas meninggalkan kompas. Pengajaran ini terdapat di dalam bait syair selanjutnya yang berbunyi :

Hai muda arif budiman

Hasilkan kemudi dengan pedoman

Alat perahumu jua kerjakan

Itulah jalan membetuli insan[34]

Jadi dari sini nampak bahwa tuduhan zindiq atau sesat oleh sebagian pihak terhadap Hamzah Fansuri adalah sesuatu yang tidak berdasar. Buktinya Hamzah Fansuri masih menyakini ajaran-ajaran agama sebagaimana yang terdapat dalam al-Quran dan al-Hadist. Dengan bahasa lainnya, beliau memperkuat makna dari sebuah hadist yang berbunyi :

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنتي (الحديث الشريف)

Artinya : Aku tinggalkan pada kalian semua dua perkara, jika kalian berpegang teguh terhadap keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu al-Quran dan Sunnahku. (al-Hadist)

Setelah memiliki pedoman dalam hidup di dunia ini, secara lebih lanjut lagi, Hamzah Fansuri memberikan deskripsi yang sangat mendetail tentang perbekalan yang harus dimiliki oleh seorang pelayar. Deskripsi ni terlihat dalam petikan bait-bait syair lainnya sebagai berikut

Perteguh jua alat perahumu

Hasilkan bekal air dan kayu

Dayung pengayuh taruh di situ

Supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar

Angkatlah pula sauh dan layar

Pada beras bekal jantanlah taksir

Niscaya sempurna jalan yang kabir[35]

Berdasarkan bait syair tersebut dapat difahami bahwa betapa pentingnya perbekalan selama dalam pelayaran di lautan yang luas. Ini bermakna bahwa manusia wajib membekali dirinya dengan berbagai keperluan atau kebutuhan nantinya di tempat yang akan dituju. Adapun perbekalan yang dimaksudkan di sini adalah seluruh amal perbuatan yang baik yang pada akhirnya membuat manusia menjadi taqwa. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah, ayat 197 yang berbunyi sebagai berikut :

وتزودوا فإن خير الزاد التقوى ( البقرة : 197)

Artinya : Dan berbekallah kalian semua, maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Selama mempersiapkan perbekalan di dunia yang fana ini, manusia selalu dihadapi dengan tantangan dan rintangan yang datang silih berganti. Adanya halangan dan rintangan yang datang silih berganti untuk mengukur sejauh mana kualitas iman seseorang. Kalau iman seseorang masih rendah, ia akan terperdaya atau tertipu oleh kenikmatan sesaat di dunia ini. Tapi sebaliknya, seseorang yang memiliki iman yang kuat, ia tidak terperdaya dengan halangan dan rintangan dalam kehidupan di dunia bahkan ia tetap fokus pada tujuan utama untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya demi kesuksesan hidup di alam akhirat.

Oleh karena itu Hamzah Fansuri mengingatkan para pembaca (ummat Islam) supaya mereka tidak terpengaruh oleh berbagai rintangan atau cobaan dalam menjalani kehidupan di dunia yang bersifat sementara ini. Rintangan atau cobaan bisa dalam bentuk kenikmatan dalam hidup atau justru sebaliknya yaitu kesengsaraan hidup. Beliau melihat fenomena dalam realitas kehidupan ummat muslim yang kaya raya pada masa itu, seakan-akan mereka terpesona dengan kenikmatan dan keindahan di dunia ini yang bersifat semu, sehingga mereka lupa mempersiapkan bekal di hari akhirat sebanyak-banyaknya. Dan demikian juga dari masyarakat kelas bawah yang kadang sering merasakan kepedihan hidup, mereka lupa untuk menyiapkan perbekalan yang secukupnya. Peringatan Hamzah Fansuri tentang perkara ini, nampak dalam kutipan bait syair berikut ini :

Perteguh jua alat perahumu

Muaranya sempit tempatmu lalu

Banyaklah di sana ikan dan hiu

Menanti perahumu lalu dari situ

Muaranya dalam ikanpun banyak

Di sanalah perahu karam dan rusak

Karangnya tajam seperti ombak

Ke atas pasir kamu tersesak

Ketahui olehmu hai anak dagang

Riaknya rencam ombaknya karam

Ikanpun banyak datang menyarang

Hendak membawa ke tengah sawang

Muaranya itu terlalu sempit

Dimanakan lalu sampan dan rakit

Jikalau ada pedoman dan kapit

Sempurnalah jalan terlalu ba’id[36]

Demikianlah peringatan Hamzah Fansuri supaya ummat muslim mempersiapkan perbekalan selama hidup di dunia yang fana ini untuk menuju ke alam yang bersifat abadi. Jadi sombolisme perahu dalam syair ini mengandungi makna yang sangat mendalam untuk penyadaran spritual bagi ummat Islam agar mereka menjadi ummat yang beramal shalih dan bertaqwa kepada Allah SWT.

III. Eskalotologi Alam Barzah

Setelah pembicaraan tema tentang kehidupan manusia di dunia, Hamzah Fansuri melanjutkan pembicaraanya pada deskripsi alam barzah. Alam barzah atau alam kubur adalah alam setelah kehidupan di dunia ini dan ia merupakan alam tempat manusia menunggu sebelum kedatangan hari qiamat[37]. Atau dengan bahasa lain yang sangat simple alam barzah adalah alam transisi antara alam dunia dengan alam akhirat. Banyak kejadian yang akan terjadi di alam barzah ini, seperti kedatangan dua orang malaikat yang bernama Mungkar dan Nangkir, fitnah kubur, siksaan kubur dan kenikmatan nikmat kubur[38].

Dalam Syair Perahu, Hamzah Fansuri membicarakan tentang kondisi di dalam alam kubur. Namun pembicaraan seputar tema ini hanya terdapat dalam 8 bait syair. Hal ini wajar-wajar saja terjadi, karena ia bukan tema utama yang dibicarakan oleh penyair, melainkan menjadi tema pendukung. Namun demikian, penyair tetap merasa perlu untuk melanjutkan pembicaraannya hingga ke tema alam barzah, supaya tema tentang simbolisme perahu tidak putus atau mentok begitu saja. Ini sangat berpengaruh terhadap psikologi pembaca, agar deskripsi tentang tema perahu akan benar-benar memberikan bekas atau pengaruhnya terhadap jiwa pembaca. Untuk lebih mengetahui lebih lanjut bagaimana deskripsi penyair tentang ekskatologi alam barzah, berikut petikan bait syairnya:

Kenal dirimu di dalam kubur

Badan seorang hanya tersungkur

Dengan siapa lawan bertutur

Di balik papan badan terhancur

Di dalam dunia banyaklah mamang

Ke akhirat jua tempatmu pulang

Janganlah disusahi emas dan uang

Itulah membawa badan terbuang

Tuntuti ilmu jangan kepalang

Di dalam kubur terbaring seorang

Mungkar wa Nangkir ke sana datang

Menanyakan jikalau ada engkau sembangyang

Tongkatnya lekat tiada terhisap

Badanmu remuk siksa dan azab

Akalmu hilang dan lenyap

.............................................................

Mungkar wa Nangkir bukan kepalang

Suaranya merdu bertambah garang

Tongkatnya besar terlalu panjang

Cambuknya banyak tiada terbilang[39]

Dari beberapa petikan syair bait di atas, terlihat bagaimana penyair mendeskripsikan kondisi manusia di alam kubur. Beliau memperingatkan manusia bahwa ketika sudah berada di alam kubur, manusia hanya tinggal sendiri saja tanpa ditemani oleh siapa-siapa kecuali amal kebaikan semasa ia masih hidup. Tidak lama setelah prosesi pemakaman selesai di lakukan oleh kaum muslimin yang masih hidup, seorang manusia yang sudah tidak bernyawa lagi itu didatangi oleh dua orang malaikat yang bernama Mungkar dan Nangkir dengan peralatannya berupa tongkat dan cambuk. Tujuan kedatangan mereka berdua adalah untuk menanyakan beberapa pertanyaan.

Kemampuan manusia dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat tergantung pada baik atau buruknya amalannya di masa hidupnya. Tentunya manusia yang berbuat amal kebaikan di masa hidupnya ia akan merasakan bahwa kehidupan di alam kubur bagaikan kehidupan di syurga. Dan begitu juga sebaliknya manusia yang berbuat kejahatan di masa hidupnya ia akan merasakan suasana seperti di alam neraka yang penuh dengan siksaan dan azab yang dahsyat.

IV. Konsep Wahdatul Wujud

Salah satu konsep yang sangat populer dibahas oleh hampir seluruh peneliti tentang tokoh Hamzah Fansuri adalah konsepnya tentang wahdatul wujud. Secara konseptual wahdatul wujud adalah satu kesatuan wujud antara wujud Tuhan dengan wujud mahkluk. Dengan bahasa lainnya, wujud Tuhan adalah wujud makhluk dan begitu juga wujud makhluk adalah wujud Tuhan.

Konsep ini telah mengalami perjalanan sejarah yang sangat panjang sejak Ibnu ‘Arabi, tokoh yang diyakini oleh sebagian besar para peneliti sebagai pendiri konsep wahdatul wujud. Dari sejak dahulu, ketika konsep ini diperkenalkan hingga sekarang, diskusi tentang wahdatul wujud selalu hangat dibicarakan oleh para peneliti, baik yang mendukungnya atau malah yang menolaknya[40]. Namun di sini, penulis tidak akan membicarakan tentang penolakan atau penerimaan konsep ini, melainkan hanya ingin mendeskripsikan saja bahwa salah satu karakteristik yang dimilki oleh Syair Perahu adalah terdapatnya konsep wujudiah.

Dalam sejarah keislaman di Aceh, Hamzah Fansuri memang terkenal sebagai seorang ulama yang menganut ajaran wahdatul wujud. Beliau mempunyai banyak murid dan karya yang mengandungi ajaran tersebut. Namun ketika Syeikh Nuruddin Ar-Raniry masuk ke istana kerajaan Aceh menjadi qadhi istana, beliau mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Hamzah Fansuri sesat dan menyesatkan. Karenanya seluruh karyanya dibakar dan anak muridnya dihalalkan darahnya.

Sebagai seorang penyebar ajaran wahdatul wujud, Hamzah Fansuri mengabadikan ajarannya itu dalam karya-karyanya, termasuk karyanya dalam bentuk syair, yaitu Syair Perahu. Namun dalam syair ini beliau hanya dua kali saja menyebutkan kata-kata yang bisa diasumsikan sebagai konsep wahdatul wujud. Berbeda dengan karyanya yang lain dalam bentuk prosa. Kalau karya-karya prosanya memang banyak mengandungi penjelasan terhadap ajaran-ajaran wahdatul wujudnya. Hal ini bisa difahami, karena bentuk syair sangat singkat yaitu hanya terdiri dari 11 halaman saja. Jadi tidak memungkinkan untuk menguraikan sebuah gagasan atau konsep besar hanya dalam beberapa halaman tersebut. Lagipula syair ini adalah Syair Perahu, yang banyak berbicara seputar perbekalan yang harus dimiliki oleh seorang hamba sebelum sampai ke tempat tujuan akhir.

Adapun kata-kata beliau yang pertama yang bisa diasumsikan sebagai ajaran wahdatul wujud adalah sebagaimana yang ada dalam kutipan bait syair ini :

Wujud Allah nama perahunya

Ilmu Allah akan.......

Iman Allah nama kemudinya

Yakin Allah nama pawangnya[41].

Dalam bait ini Hamzah Fansuri mengatakan bahwa wujud Allah adalah perahu. Sementara pada bait-bait sebelumnya, beliau menyebutkan perahu itu sebagai manusia[42]. Ini menandakan bahwa beliau menyamakan antara wujud Allah dan wujud manusia. Bagi pembaca yang tidak memiliki pengetahuan tentang konsep wahdatul wujud, maka ia akan mengalami kesulitan dalam memahami bait syair di atas. Kesulitan ini adalah ia akan mengatakan kenapa penyair tidak konsisten pada pernyataan yang semula? Kenapa pada mulanya penyair mengatakan perahu yang dimaksud adalah manusia akan tetapi pada bait selanjutnya perahu tersebut adalah Allah? Bukankah ini sebuah ketidakkonsistenan penyair terdahap pernyataannya sendiri? Ternyata jawabannya adalah bahwa itu bukan sebagai bentuk ketidakkonsistenan penyair terhadap pernyataannya sendiri melainkan, sebagai sinyal dari ajaran wahdatul wujudnya yang menyamakan antara wujud Tuhan dengan wujud manusia.

Selain itu, untuk yang ke dua kalinya penyair memberikan sinyal kepada pembaca tentang konsep wahdatul wujudnya, yang dapat ditangkap dalam petikan bait syair berikut ini:

La ila ha illallah itu kesudahan kata

Tauhid ma’rifat semata-mata

Hapuskan hendak sekalian perkara

Hamba dan Tuhan tiada berbeda[43]

Sinyal yang dimaksud adalah pada baris terakhir dimana beliau mengatakan bahwa antara hamba dengan Tuhan tiada berbeda. Ini juga merupakan konsep wahdatul wujud yang melihat antara wujud Tuhan dan wujud mahkluk sebagai satu kesatuan.

V. Iman, Tauhid dan Makrifat

Dalam kajian ilmu tasawuf, banyak tema-tema yang dibicarakan orang ahli sufi hulul, ittihad, insan kamil, makrifat, mahabbah, wahdatul wujud, wahdatus syuhud, tauhid, iman dan lain sebagainya. Demikian juga halnya Hamzah Fansuri yang ikut membicarakan tema-tema di atas dalam syair perahunya. Namun penyair membatasi pembicaraan seputar tema besar tersebut hanya pada tiga kategori yaitu iman, tauhid dan makrifat. Di sini beliau tidak berbicara masalah mahabbah ataupun isyq sebagaimana yang terdapat di dalam karya-karya beliau lainnya. Pembatasan pada tiga tema besar ini dilakukan sang penyair, supaya tidak akan mengganggu tema utama yang diusung oleh syair perahu, yaitu tentang simbolisme perahu. Makanya tema pendukung ini hanya mengambil space dalam syair ini pada 6 bait saja.

Untuk melihat secara lebih nyata bagaimana Hamzah Fansuri berbicara seputar iman berikut petikan bait syairnya :

La ila ha illallah itu firman Tuhan

Tuhan itulah pergantungan alam sekalian

Iman tersurat pada hati insan

Siang dan malam jangan dilalaikan

La ila ha illallah itu terlalu nyata

Tauhid ma’rifat semata-mata

Memandang yang gaib semuanya rata

Lenyaplah ke sana sekalian kita

....................................................

La ila ha illallah itu kesudahan kata

Tauhid ma’rifat semata-mata

Hapuskan hendak sekalian perkara

Hamba dan Tuhan tiada berbeda

.......................................................

La ila ha illallah itu tempat musyahadah

Menyatakan tauhid jangan berubah

Sempurnalah jalan iman yang mudah

Pertemuan Tuhan terlalu susah[44]

Dari beberapa kutipan bait syair di atas terlihat secara jelas bagaimana Hamzah Fansuri menafsirkan kalimat tauhid ( لا اله الا الله ). Seorang muslim yang meyakini kebenaran akan kalimat tauhid ini, maka ia menjadikan Allah tempat ia meminta pertolongan dan sebagai tempat ia bergantung. Penyair perlu menitik beratkan pada penafsiran kalimat ini karena realita dalam kehidupan masyarakat, masih ada yang meminta bantuan pada selain Allah, seperti pada kuburan, para guru yang telah dikultuskan kesuciannya dan lain sebagainya. Nasehat ini juga sangat relevan dengan realitas yang terjadi dalam masyarakat muslim modern saat ini yang telah menuhankan materi dalam hidup sehingga mereka meragukan kekuasaan Tuhan.

Selain itu, penyair juga menjelaskan di mana sesungguhnya iman itu terdapat. Iman terletak dalam hati tiap muslim yang beriman dan ia tidak bisa dinampakkan ke luar. Dan yang membuktikan bahwa seseorang telah beriman adalah pada perbuatannya. Hal ini sebagai penafsiran Hamzah Fansuri terhadap sebuah hadist nabi yang bersabda bahwa iman itu terletak di sini (sambil Nabi meletakkan jari telunjuknya di dada).

Selanjutnya, penyair juga memberikan nasehat kepada para pembaca, bahwa hendaknya kalimat tauhid ini menjadi kalimat akhir yang diucapkan oleh seorang muslim di saat-saat ajal datang menjemputnya. Karena dengan kalimat ini, kehidupanya di alam akhirat akan selamat dan bahagia karena dijamin masuk ke dalam syurga, sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

من كان آخر كلامه لا اله إلا الله دخل الجنة (رواه البخاري)

Sementara makrifah selalu digandengkan dengan kata-kata tauhid. Ini karena setiap hamba yang ketauhidannya sudah benar, maka pada puncaknya ia akan berada pada sebuah maqam yang tertinggi yaitu makrifat. Makrifat adalah seseorang hamba telah benar-benar mengenal Tuhannya dan ia mampu merasakan bahwa Tuhan selalu berada di sisinya.

VI. Arabisasi Bahasa Melayu

Salah satu karatek lain dalam Syair Perahu dari unsur luarnya adalah banyaknya penggunaan kata atau istilah Arab. Dari sini nampak ada sebuah usaha yang dilakukan oleh Hamzah Fansuri untuk mengarabkan bahasa Melayu, sehingga sampai hari ini dalam bahasa Indonesia banyak terdapat kosa kata Arab yang sudah diadopsi sebagai bahasa Indonesia secara resmi. Ini semua adalah pengaruh dari usaha Hamzah Fansuri dalam karya-karya sastranya, baik dalam bentuk prosa maupun dalam bentuk syair. Untuk melihat lebih jelas, sejauh mana penggunaan kosa-kata bahasa Arab dalam Syair Perahu, berikut diberikan sebuah tabel :

No

Kosa-Kata Bahasa Arab

Artinya

Tempat

1

Madah

Pujian

Bait ke - 1

2

Tamsil

Perumpamaan

Bait ke - 2

3

Taksir

Perkiraan

Bait ke - 5

4.

Kabir

Besar

Bait ke – 5

5

Ba’id

Jauh

Bait ke - 9

6

Wahid al-kahhar

Penguasa satu-satunya

Bait ke - 15

7

Musyahadah

Menyaksikan

Bait ke – 16

8

Azamah

Dahsyat, hebat

Bait ke – 17

9

Muhit

Luas, meliputi

Bait ke - 18

10

Thaharah

Kesucian

Bait ke - 23

11

Istinjak

Membersihkan Kotoran

Bait ke - 23

12

Kamal

Sempurna

Bait ke - 24

13

Terhisap

Terhitung

Bait ke - 31

14

Da’im

Kekal

Bait ke - 37

15

Ka’im

Teguh

Bait ke - 37

16

Khalak

Makhluk

Bait ke - 37

17

Kadim

Kekal

Bait ke - 41

Dari tabel di atas nampak bagaimana proses arabisasi bahasa Melayu yang dilakukan oleh Hamzah Fansuri dalam Syair Perahunya. Dari sini bisa difahami bukan sekedar pada persoalan bahasa semata, melainkan juga pada persoalan budaya. Artinya bahwa dalam karya Hamzah Fansuri terdapat proses aculturasi budaya Arab ke dalam budaya Nusantara Melayu. Ini karena bahasa merupakan indentitas budaya sebuah bangsa.

Pada kesempatan yang lain, Cahya Buana, salah seorang dosen di jurusan Bahasa dan Sastra Arab di Uiniversitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, pernah membahas secara khusus tentang pengaruh sastra Arab terhadap puisi-puisi Hamzah Fansuri[45]. Tulisan beliau ini sangat bermanfaat untuk melihat secara lebih jauh lagi bagaimana penggunaan kosa-kata bahasa Arab dalam syair-syair Hamzah Fansuri.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Akhirnya penulis sampai pada bab terakhir, yaitu bab penutup, dalam penelitian ini untuk memberikan beberapa kesimpulan yang telah berhasil diperoleh selama melakukan penelitian. Adapun beberapa kesimpulan tersebut adalah sebagaimana yang tertera berikut ini :

  1. Bahwa Hamzah Fansuri menuliskan prolog dalam Syair Perahu sebagai kata-kata pengantarnya kepada para pembaca.
  2. Bahwa simbol perahu dalam Syair Perahu merupakan simbol dari perumpamaan manusia yang diibaratkan sedang mengarungi lautan luas untuk menuju sebuah tujuan. Lautan luas itu adalah kehidupan di dunia yang fana ini sedangkan tujuan terakhir yang hendak dicapai adalah alam akhirat. Oleh karena itu, Hamzah Fansuri mengajak para pembaca untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk persiapan di akhirat kelak. Karena simbolisme perahu ini merupakan tema sentral yang dibicarakan oleh penyair, maka ia mengambil space yang sangat banyak dalam syair ini, yaitu 26 bait syair.
  3. Deskripsi tentang alam kubur atau alam barzah juga tidak luput dibicarakan oleh Hamzah Fansuri, walaupun ini bukan sebagai tema sentral yang dibicarakan. Karena sebagai tema pendukung, maka ia hanya dibicarakan oleh penyair dalam 8 bait syair saja.
  4. Konsep wahdatul wujud sempat juga dibicarakan oleh penyair secara tersirat dalam 2 bait syair yang berbeda. Wahdatul wujud merupakan sebuah konsep sufi Ibnu Arabi yang melihat bahwa antara wujud Tuhan dan wujud alam merupakan sebagai satu kesatuan.
  5. Konsep iman, tauhid dan ma’rifat juga dibahas oleh Hamzah Fansuri sebagai tema pendukung. Ini bermaksud bahwa ajaran-ajaran Hamzah Fansuri tidak bisa diklaim sebagai ajaran yang sesat karena sesungguhnya beliau masih menyakini pentingnya iman dan tauhid sebagai landasan bagi syariat. Dan makrifat sendiri merupakan maqam yang tertinggi yang dicapai oleh seorang sufi, dimana ia telah mampu mengenal Tuhannya secara benar.
  6. Hamzah Fansuri telah melakukan terobosan yang sangat luar biasa dalam bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa resmi bangsa Indonesia. Terobosan tersebut adalah upaya memasukkan kata-kata Arab ke dalam bahasa Melayu. Usaha beliau tersebut masih bisa dilihat pada bahasa Indonesia sekarang ini yang banyak mengadopsi kata-katanya dari bahasa Arab.

B. Rekomendasi

Di akhir penulisan ini, penulis ingin memberikan rekomendasi kepada peneliti selanjutnya untuk menyelesaikan kontroversial kepengarangan Hamzah Fansuri pada Syair Perahu. Sebagian besar para peneliti menyakini bahwa Syair Perahu adalah karangan Hamzah Fansuri, hanya sebagian kecil saja yaitu V. I Braginsky dan Brakel yang meragukannya. Perlunya penelitian tentang ini untuk mendukung pendapat Braginsky dan kawannya atau malah untuk menolak pendapat mereka. Semoga nama harum Hamzah Fansuri sebagai penyair sufi akan semakin semerbak ke seluruh pelosok dunia.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Abdul Hadi WM, Dr, Hermeneutik Estetika dan Religiutas : Essai-Essai Sastra Sufistik dan Seni Rupa, Matahari, 2004

Abdul Hadi WM, Dr, Hamzah Fansuri : Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya, Mizan, Cet. I, 1995

Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri, Paramadina, 2001

Abdul Hadi WM, Dr, dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Sufi Aceh, LOTKALA, 1984

Abdul Hadi WM, dkk, Sastra Melayu Lintas Daerah, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2004)

Ahmad Syayib, Ushul Naqd al-Adabi, (Kairo : Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1994)

Aprinus Salam, Oposisi Sastra Sufi, (Yogyakarta : LKiS, 2004), cet I

Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Sastra, (Yogyakarta : Universitas Gajah Mada Press, 2007)

Claude Guillot dan Ludvik Kalus, Inskripsi Islam Tertua di Indonesia, Kepustakaan Populer Media ; Jakarta, cet. I, 2008

Edward Djamaris, Dr dan Saksono Prijanto, Drs, Hamzah Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry, Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktur Jenderal Kebudayaan, Jakarta: 1995/1996

F. C. Happold, Mysticism : A Study and An Antology (Middlesex - New York : Penguin, 1981)

G. W. J. Drewes and L. F Brakel, The Poems of Hamzah Fansuri, (Holand : Foris Publication, 1986)

Haji Wan Mohammad Shaghir Abdullah, Tafsir Puisi Hamzah Fansuri dan Karya-Karya Sufi,

Haji Wan Mohammad Shaghir Abdullah, Almakrifah : Pelbagai Aspek Tasawuf I,

Ja’far, S. Pd. I, MA, Warisan Filsafat Nusantara : Sejarah Filsafat Islam Aceh Abad XVI-XVII Masehi, Yayasan Pena; Banda Aceh, cet, I, 2010

Kautsar Azhari Noer, Ibn al-‘Arabi Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan, (Jakarta: Paramadina, 1995), cet I

Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, (Jakarta: Erlangga, 1993)

M. Afif Anshori, Tasawuf Falsafi Syaikh Hamzah Fansur, (Yogyakarta : Gelombang Pasang, 2004). Cet. I

M. Solihin, Dr, M. Ag, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, cet I, 2005

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Serambi, Cet II, 2005

Rachmat Djoko Pradopo, Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, Cet I, 1995

Sardono W. Kusumo, Prof, (Peng.) Aceh Kembali ke Masa Depan, KataKita, Yayasan SET dan PT Gudang Garam ; Jakarta, cet, I. 2005

Shalih al-Tha-ie, ‘Alam al-Barzah, (Kairo: Dar al-Muhajjah al-Baidhak, 2004)

Sayed Naquib al-Attas, The Origin of the Malay Sha’ir, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968)

Syarifuddin, Wujudiyah Hamzah Fansuri dalam Perdebatan Para Sarjana : Kajian Hermeneutik Atas Karya-Karya Sastra Hamzah Fansuri, Almahira ; Jakarta, cet I, Maret 2011

Sirajuddin Muhammad, al-Ghazal fi al-Syikri al-‘Araby, (Beirut : Dar al-Rateb al-Jami’ah, t.t)

Syauqi Dhaif, Tarikh al-Adab al-‘Arabi al-‘Ashr al-‘Abbasy al-Tsani, (Kairo : Darul Ma’arif, 1973), cet.12

Vladimir I. Braginsky, Tasawuf dan Sastra Melayu, (Jakarta: RUL, 1993)

Vladimir I Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal : Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19, (Jakarta : INIS, 1998), cet. I

B. Jurnal

Abdul Hadi WM, Dr, Karya Melayu Bercorak Tasawuf dan Klasifikasinya, Lektur Keagamaan, Vol. 6. No.2, 2008, hal 179

Abdul Hadi WM, Dr, Jejak Parsi dalam Sejarah Kebudayaan dan Sastra Melayu, Suhuf, Vol. 3, no. 1, 2010

Cahya Buana, Pengaruh Sastra Arab Terhadap Puisi-Puisi Hamzah Fansuri, Jurnal al-Turast, volume XIV, nomor 2, Mei 2008

Sangidu, Prof, Dr, M. Hum. Ikan Tunggal Bernama Fadhil Karya Hamzah Fansuri Analisis Semiotik, Humaniora, FIB, UGM, XV. Nomor 2 tahun 2003

Sangidu, Prof, Dr, M. Hum. Allah Maujud Terlalu Baqi Karya Syaihk Hamzah Fansuri Analisis Semiotik, Diksi, vol. II, nomor 1, Januari 2004

Khairul Fuad, Tasawuf dalam Puisi Arab Modern (Studi Puisi Sufistik Abdul Wahab al-Bayati) http://idb3.wikispaces.com/file/view/uf3002.pdf, 1 Juni 2011

Vladimir Braginsky, Some remarks on the structure of the Syair Perahu by Hamzah Fansuri, KITLV Leiden,nomor 4, 1975,

C. Disertasi

J. Doorenbos, “De Geschriften Van Hamzah Pansoeri”, (disertasi doctoral di Leiden University, 1933), tidak diterbitkan

Mohammad Yusuf, Ghazal dalam Sastra Sufi : Telaah atas Aspek Balaghah Syair-Syair Tarjuman al-Ashwaq Ibnu ‘Araby, (Jakarta : Disertasi Doktoral Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah, 2008), tidak diterbitkan



[1] . Lihat : Achadiati Ikram, Hamzah Fansuri : A Man of Literature and Religion, diakses pada website , tanggal 10-10-2010 ; Sehat Ihsan Shadiqin, Tasawuf Aceh, (Banda Aceh : )

[2] . Abdul Hadi WM, Aceh dan Kesusastraan Melayu, dalam Aceh Kembali ke Masa Depan, (Jakarta: IKJ Press bekerjasama dengan Kata Kita, 2005) cet. I, hal 182

[3] . Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Sastra, (Yogyakarta : Universitas Gajah Mada Press, 2007), hal. 323

[4] . Khairul Fuad, Tasawuf dalam Puisi Arab Modern : Studi Sufistik Abdul Wahab al-Bayati, http://idb3.wikispaces.com/file/view/uf3002.pdf, diakses 1 Juni 2011

[5] . Aprinus Salam, Oposisi Sastra Sufi, (Yogyakarta : LKiS, 2004), cet I, hal 29

[6] . F. C. Happold, Mysticism : A Study and An Antology (Middlesex - New York : Penguin, 1981), hal 250

[7] . Syauqi Dhaif, Tarikh al-Adab al-‘Arabi al-‘Ashr al-‘Abbasy al-Tsani, (Kairo : Darul Ma’arif, 1973), cet.12, hal 104

[8] . Mohammad Yusuf, Ghazal dalam Sastra Sufi : Telaah atas Aspek Balaghah Syair-Syair Tarjuman al-Ashwaq Ibnu ‘Araby, (Jakarta : Disertasi Doktoral Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah, 2008), tidak diterbitkan, hal. 43

[9] . Mohammad Yusuf, Ghazal dalam Sastra Sufi…, hal 44

[10] . Mohammad Yusuf, Ghazal dalam Sastra Sufi.…, hal 44

[11] . Untuk lebih lanjut tentang pembahasan ini, lihat : M. Afif Anshori, Tasawuf Falsafi Syaikh Hamzah Fansur, (Yogyakarta : Gelombang Pasang, 2004). Cet. I

[12] . Penulisan ajaran-ajaran keagamaan dalam berbagai bidang sering juga disebut dengan Sastra Kitab oleh sebagian peneliti yang lain. Misalkan, Roolvink, sebagaimana yang dikutip oleh Liaw Yock Fang mendefinisikan sastra kitab adalah kajian tentang al-Quran, tafsir, tajwid, arkanul Islam, ushuluddin, fikih, ilmu tasawuf, tareqhat, zikir, rawatib, do’a, jimat, risalah, wasiat, dan kitab tib (obat-obatan, jampi menjampi), semuanya dapat digolongkan ke dalam sastra kitab. Selain itu, Liaw Yock Fang juga mengutip definisi Sastra Kitab menurut Siti Baroroh Baried, dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sastra kitab adalah sastra tasawuf yang berkembang di Aceh pada abad ke 17. Lihat : Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, (Jakarta: Erlangga, 1993), hal. 41.

[13] . Abdul Hadi WM, dkk, Sastra Melayu Lintas Daerah, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2004), hal347

[14] . Ghazal adalah salah satu tema yang terdapat dalam tradisi syair Arab jahiliah. Adapun yang dimaksud dengan ghazal adalah gambaran seorang lelaki terhadap kekasihnya baik karena keindahan fisiknya maupun karena kerinduannya. Lihat : Sirajuddin Muhammad, al-Ghazal fi al-Syikri al-‘Araby, (Beirut : Dar al-Rateb al-Jami’ah, t.t), hal 6 dan seterusnya

[15] . Ahmad Syayib, Ushul Naqd al-Adabi, (Kairo : Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1994), cet. 10, hal 32

[16] . Mohammad Yusuf, Ghazal dalam Sastra Sufi…., hal 127

[17] . Mohammad Yusuf, Ghazal dalam Sastra Sufi…, hal 140 sampai seterusnya

[18] . Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas Kajian Hermeneutic Terhadap Karya Karya Hamzah Fansuri, (Jakarta : Paramadina, 2001), cet. I, hal : 22

[19] . Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas….,hal 22

[20] . Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas….,hal 23

[21] . Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas….,hal 23

[22] . Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas…, hal. 22

[23] . Artikel ini aslinya ditulis dalam bahasa Rusia yang dipublikasikan pada jurnal Literatura Vostoka, Moscow, tahun 1969. Dan 5 tahun selanjutnya artikel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris serta dipublikasikan di KITLV pada tahun 1975.

[24] . Lihat : G. W. J. Drewes and L. F Brakel, The Poems of Hamzah Fansuri, (Holand : Foris Publication, 1986).

[25]. Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas…., hal 173, Sedangkan Vladimir I. Braginsky juga pernah mendeskripsikan tentang versi-versi Syair Perahu dalam bukunya : Yang Indah, Berfaedah dan Kamal : Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19, namun deskripsi beliau terlalu berbelit-belit dan kondisi naskah yang beliau rujukpun sudah tidak utuh lagi secara fisiknya. Oleh karena itu, penulis berpedoman pada apa yang ditulis oleh Abdul Hadi WM.

[26]. SOAS kepanjangan dari School of Oriental and African Studies, merupakan salah satu program studi yang terdapat di London University.

[27] . Sutan Takdir Ali Sjahbana, Puisi Lama, (Jakarta : Pustaka Rakjat, 1961)

[28]. Bahasa lain yang sinonim dengan dengan prolog adalah : mukaddimah, pembukaan, prembule atau dalam bahasa inggris biasa disebut sebagai introduction.

[29]. Pembahasan lebih lanjut seputar prolog dalam tradisi syair bangsa Arab, khususnya pada masa jahiliyyah, sedang diteliti saat ini oleh Nurhamim, salah seorang mahasiswa doctoral di Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta yang judul disertasinya : Prolog dalam Syair Jahiliyyah Serta Pengaruhnya Terhadap Politik Perang Bangsa Arab Jahiliyah : Sebuah Kajian Sosiologi Sastra.

[30] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh¸(t. t. t, : Lotkala, 1984), hal. 31

[31] . Salah satu unsur yang terdapat dalam bahasa sebuah syair adalah estetika atau keindahan. Unsur inilah yang membedakan tulisan karya sastra dengan karya non-sastra. Dalam prolognya Hamzah Fansuri mengakui bahwa ia menggunakan nilai-nilai estetika dalam syairnya itu. Dengan demikian, pantaslah oleh para peneliti dalam bidang Sastra Melayu Klasik memberikan gelar kepada beliau sebagai Bapak Puisi pertama di dunia nusantara – Melayu ini. Untuk pembahasan lebih lanjut seputar masalah ini Lihat : Sayed Naquib al-Attas, The Origin of the Malay Sha’ir, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968), lihat juga : Vladimir I. Braginsky, Tasawuf dan Sastra Melayu, (Jakarta: RUL, 1993)

[32] . Mengenai pembicaraan lebih lanjut tentang tema ini, lihat Vladimir I Braginsky, Yang Indah, Berfaedah dan Kamal : Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19, (Jakarta : INIS, 1998), cet. I, hal : 494.

[33] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 31

[34] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 31

[35] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 31-32

[36]. Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 32

[37] . http://www.islamhouse.com/p/227832, diakses pada 21 Oktober 2011

[38] . Informasi lebih lanjut tentang alam barzah dapat dilihat : Shalih al-Tha-ie, ‘Alam al-Barzah, (Kairo: Dar al-Muhajjah al-Baidhak, 2004)

[39] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 37-39

[40] . Pembahasan seputar konsep wahdatul wujud menurut Ibnu Arabi yang ditulis dalam bahasa Indonesia secara sangat lengkap lihat : Kautsar Azhari Noer, Ibn al-‘Arabi Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan, (Jakarta: Paramadina, 1995), cet I. Sementara konsep wahdatul wujud menurut Hamzah Fansuri lihat : Syarifuddin, Wujudiyah Hamzah Fansuri dalam Perdebatan Para Sarjana : Kajian Hermeunetik Atas karya-Karya Hamzah Fansuri, (Jakarta: Almahira, 2011), cet I, lihat juga : M. Afif. Anshori, Tasawuf Falsafi Syeikh Hamzah Fansuri, (Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2004), cet I

[41] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 36

[42] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 31

[43] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 41

[44] . Abdul Hadi WM dan L. K. Ara, Hamzah Fansuri Penyair….., hal 40-41

[45] . Lihat : Cahya Buana, Pengaruh Sastra Arab Terhadap Puisi-Puisi Hamzah Fansuri, Jurnal al-Turast, volume XIV, nomor 2, Mei 2008, hal. 145

No comments:

Post a Comment

Post a Comment